Selasa, 11 Nov 25 12:24 WITA

Kutim Terapkan Pola Pendampingan Berjenjang untuk Cegah Stunting Sejak Remaja Hingga Balita

by Ringkas

 

ringkasmedia.net, kutim – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memperkuat strategi pencegahan stunting melalui pola pendampingan berjenjang yang dimulai sejak remaja, dilanjutkan pada masa kehamilan, persalinan, hingga fase tumbuh kembang balita. 

Pendekatan ini diyakini mampu menghasilkan generasi Kutim yang sehat, cerdas, dan siap bersaing di masa depan.

Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, Sumarno, menyebut bahwa keberhasilan penanganan stunting tidak hanya ditentukan oleh pemberian makanan bergizi kepada balita, tetapi harus dimulai jauh sebelum anak dilahirkan.

“Kalau kita ingin anak tumbuh optimal, pendampingan tidak boleh terjadi hanya setelah lahir. Stunting harus dicegah sejak remaja, dari kesehatan darah hingga kesiapan reproduksi,” ujar Sumarno, Selasa (11/11/25).

Di fase remaja putri, pemerintah fokus pada pemenuhan gizi dan pencegahan anemia, termasuk distribusi tablet tambah darah, edukasi kesehatan reproduksi, dan kampanye konsumsi makanan bergizi di sekolah.

Tahap ini dipandang sebagai pondasi agar perempuan memasuki usia dewasa dengan kondisi nutrisi yang kuat.

Masuk ke fase kehamilan, ibu hamil mendapatkan pemantauan berkala, kelas edukasi gizi, pemeriksaan kandungan, hingga dukungan psikologis untuk memastikan kesehatan ibu dan janin terjaga. 

Petugas kesehatan dikerahkan untuk mengawasi konsumsi zat besi, protein, dan pemenuhan nutrisi lain.

Pada masa pasca melahirkan dan menyusui, pendampingan difokuskan pada keberhasilan pemberian ASI eksklusif, edukasi MPASI, dan pemantauan tumbuh kembang. 

Tenaga kesehatan mengidentifikasi risiko stunting sedini mungkin untuk memastikan intervensi tepat sasaran.

“Stunting bukan hanya soal pendek, dampak terbesarnya ada pada otak karena itu pemantauan balita sangat penting sampai usia lima tahun,” tegas Sumarno.

Pendekatan berkelanjutan ini melibatkan berbagai unsur, termasuk PKK, kader TPK, posyandu, sekolah, perangkat desa, hingga tokoh masyarakat. Sinergi tersebut dibutuhkan agar praktik gizi, sanitasi, dan pola asuh sehat menjadi budaya di tingkat keluarga.

Dinkes Kutim juga memperkuat edukasi publik berbasis lapangan mulai dari penyuluhan kesehatan, demonstrasi memasak sehat, hingga kunjungan rumah untuk memastikan anak berisiko tidak luput dari intervensi.

Pemerintah optimistis strategi pendampingan berjenjang akan menekan angka stunting secara signifikan dan membuka jalan bagi lahirnya generasi emas Kutim sebagai modal pembangunan jangka panjang.

Dengan komitmen yang kuat dari pemerintah dan masyarakat, Kutim menargetkan stunting bukan hanya menurun tetapi hilang sepenuhnya dalam beberapa tahun mendatang.(ADV)

Berita Terkait
Juli 31, 2026

DPRD Samarinda Minta Pembangunan Drainase Terstruktur dan Terintegrasi

Juli 31, 2026

DPRD Samarinda : Atasi Macet Folder Air Hitam lewat Optimalisasi Aset Terbengkalai

Juli 30, 2026

DPRD Samarinda Dorong Digitalisasi Sekolah di Wilayah Pinggiran

Juli 30, 2026

Raperda Pariwisata Disiapkan Jadi Penopang Ekonomi Samarinda