Samarinda, Ringkasmedia.net– Polisi tak hanya berkutat soal menangkap penjahat bak film Hollywood, bukan juga soal tilang menilang dan “86”, ada polisi yang mengabdi di masyakat, berjibaku saat pandemi, mengesampingkan keluarganya sendiri, ya! Polisi juga manusia.
Lantunan azan Subuh sayup terdengar dikejauhan, seorang polisi bersiap menjalani harinya, nampak dikamar berdinding kayu itu anak dan istrinya masih terlelap, inilah adegan awal di film pendek berjudul Garis Terdepan, di gagas Komisaris Polisi Creato Sonitehe yang akrab disapa Gulo.
“Film ini salah satu bentuk apresiasi saya kepada para Bhabinkamtibmas yang telah menjadi ujung tombak, garis terdepan saat penanganan pandemi Covid-19, bayangkan bagaimana kami di kepolisian harus melakukan tracing dan tracking serta edukasi mengenai pandemi Covid-19, disaat orang lain menjauh, kami malah mendekat dan mencari orang yang kena virus ini,”ungkap Perwira dengan satu melati di pundak ini.
Gulo menuturkan tak sedikit yang cekcok dengan istri dan itu fakta dilapangan, seperti sebuah scene terakhir dalam “Garis Terdepan” episode satu, saat istri meminta untuk tetap dirumah selama pandemi, namun sang suami harus melakukan tugasnya demi orang banyak, istrinya pun membalikkan badan dan mengucap “terserah!”
“Saat menjabat Kapolsek Samarinda Kota, ada 15 Bhabinkamtibmas saya, dan semua positif Covid, dilemanya disitu, ada tugas ada keluarga yang menanti,”terangnya.
Film ini digarap bersama sineas muda asal Kutai Kartanegara, “Garis Terdepan” banyak memaksimalkan anggota kepolisian dalam proses pembuatannya.
“Film pendek ‘Garis Tangan’ ada tiga episode, yang pertama tayang 12 April, silahkan liat di kanal Youtube Virtual Police, dalam film itu bahkan dalam setiap konten di dalam chanel saya berisi sisi lain polisi, tujuannya untuk edukasi, serta bentuk apresiasi dan penghargaan anggota saya di lapangan, selain itu ini menjadi buah karya saya yang bisa diliat anak dan cucu saya nantinya,” ucap pria kelahiran Pulau Nias yang memiliki 7300an subscriber ini.
Konten-konten dalam chanelnya mengandung bayak pesan dan kesan moral, ada konsep sketsa jenaka, ada musik kolaborasi alat musik tradisional sampek dan ada film pendek lainnya.
“Saya dulunya ingin sekolah di Institut Teknologi Bandung (ITB) jadi arsitek, tapi saya gak punya biaya, jadi ‘terpaksa’ masuk sekolah polisi, karena hanya sekolah polisi itu gratis, ibu saya juga merestui untuk jadi polisi,”kenang Gulo sambil tertawa.
Pertama kali karir kepolisiannya ditempatkan di Polres Ngawi, Jawa Timur selama 5 tahun, awal di Reserse lalu ke Lalu Lintas.
“Sempat kepikiran masuk Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) tapi ayah saya seorang PNS, cari yang lain jadinya, pilihan jatuh ke kepolisian,” ungkap mantan Kapolsek Samarinda Kota ini.
2005 adalah awal langkah Gulo dalam pendidikan di Korps Bhayangkara, perjalanan dari Pulau Nias ke Simbolga dimulai, gempa dan tsunami saat itu membuat dirinya harus mengungsi sementara di pegunungan Tapanuli Tengah dan selanjutnya ke Medan untuk lanjut mendaftarkan diri sebagai calon taruna di Akademi Polisi (AKPOL).
“Tidak ada tradisi jadi polisi di keluarga saya, waktu SMA saya adalah Paskibraka, itulah jadi terpikir menjadi polisi, dan akhirnya sampai disini,”jelas perwira yang menjabat Kasatlantas Polresta Samarinda ini.
“Harus siap dimutasi pimpinan kemana pun bertugas,” sambung Gulo yang hobi memainkan piano ini.
Kesukaannya dengan piano berawal dari kehidupan asrama SMU, saat itu cuma ada piano dan kakak tingkatnya banyak mainkan piano, akhirnya belajar, “saat itu yang bisa main piano banyak cewek-cewek yang suka,” serunya.
Dirinya juga aktif didunia digital dan aktif di media sosial (medsos), belajar mengenai sosial media management, menurutnya polisi harus mengikuti perkembangan dunia informasi dan teknologi.
“Saya melakukan ini untuk meninggalkan sebuah karya, sebagai dokumentasi perjalanan karir saya di berbagai daerah, ada yang bisa saya, anggota saya dan keluarga saya liat,”ujarnya. (al/tot)


Tinggalkan Balasan