ringkasmedia.net, kutim – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DPPKB) kembali memperkuat strategi penurunan stunting dengan pendekatan yang lebih humanis dan berkelanjutan melalui program Rumah Rehat Gizi.
Program ini menjadi inovasi baru untuk membantu keluarga mengubah pola konsumsi dan pola asuh menjadi lebih sehat.
Kepala DPPKB Kutim, Ahmad Junaedi, menjelaskan bahwa Rumah Rehat Gizi dirancang bukan sebagai ruang sementara untuk memberi makanan tambahan, tetapi sebagai laboratorium perubahan perilaku keluarga.
Menurutnya, faktor terbesar penyebab stunting di Kutim bukan ketiadaan makanan, melainkan ketidakpahaman mengenai komposisi gizi dan kebiasaan makan anak.
“Tujuan utama Rumah Rehat Gizi adalah memperbaiki kebiasaan keluarga dalam memberikan nutrisi dan Intervensi tidak selesai pada pemberian makanan, tetapi pada perubahan pengetahuan dan perilaku,” ujar Ahmad, Kamis (20/11/25).
Di Rumah Rehat Gizi, para ibu dan balita menjalani program pendampingan harian serta anak menerima pemantauan tumbuh kembang, sementara ibu diberi edukasi melalui penyuluhan, praktik memasak bergizi, dan konsultasi pengasuhan.
Seluruh pendataan perkembangan dijalankan secara bertahap untuk memastikan dampaknya terukur.
Program ini dioperasikan melalui kolaborasi berbagai pihak kader Posyandu, tenaga gizi, penyuluh KB, hingga pemerintah desa.
DPPKB juga memberikan pelatihan kepada kader PKK agar dapat bertindak sebagai penyuluh kesehatan keluarga di wilayahnya masing-masing.
“Kami ingin kader menjadi penguat di tingkat desa dan ketika ibu membutuhkan bimbingan, kader hadir lebih awal daripada kasus menjadi berat,” tambah Ahmad.
Selain mendukung perubahan pola makan anak, Rumah Rehat Gizi juga memprioritaskan pendampingan gizi bagi ibu hamil dan ibu menyusui untuk mencegah stunting sejak fase kehamilan.
Ke depan, DPPKB menargetkan Rumah Rehat Gizi dapat tersedia di seluruh kecamatan agar semua desa memiliki pusat edukasi keluarga yang mudah dijangkau.
Dengan hadirnya Rumah Rehat Gizi, Pemkab Kutim berharap penanganan stunting tidak lagi dipandang sebagai program bantuan, tetapi sebagai gerakan perubahan pola hidup keluarga untuk membangun generasi Kutim yang sehat, kuat, dan cerdas.(ADV)



