ringkasmedia.net, kutim – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperluas pemerataan layanan kesehatan berbasis spesialis sebagai langkah mempercepat penanganan penyakit yang masih mendominasi wilayah Kutim, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).
Langkah ini dilakukan agar masyarakat mendapatkan pelayanan pemeriksaan lanjutan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada fasilitas rujukan di pusat kota.
Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, Sumarno, menyampaikan bahwa salah satu prioritas Dinas Kesehatan pada tahun 2025 adalah menghadirkan layanan spesialis di tingkat kecamatan melalui sistem layanan terjadwal dan berbasis jemput pasien.
Dengan sistem ini, warga dapat memperoleh pemeriksaan langsung dari dokter spesialis anak maupun penyakit dalam pada fasilitas kesehatan terdekat.
“Dengan memperluas jangkauan dokter spesialis, kita ingin memastikan seluruh masyarakat Kutim memiliki akses pelayanan kesehatan lanjutan tanpa hambatan biaya maupun jarak,” ujar Sumarno, Kamis (20/11/25).
Ia menyebut kasus ISPA masih menjadi kunjungan tertinggi di fasilitas kesehatan, meski peningkatan kesadaran masyarakat untuk berobat semakin baik.
ISPA menimpa semua kelompok usia dan cenderung meningkat pada perubahan cuaca serta wilayah dengan paparan debu dan aktivitas industri.
Untuk menekan angka penyakit tersebut, Dinkes tidak hanya menerapkan penguatan klinis, tetapi juga mendorong edukasi masyarakat mengenai pola hidup sehat, penggunaan masker di area berdebu, memperbaiki kebersihan lingkungan, serta pemenuhan gizi keluarga.
Sumarno menegaskan bahwa penanganan ISPA tidak boleh hanya bergantung pada obat-obatan.
Pencegahan melalui peningkatan daya tahan tubuh disebut jauh lebih efektif dalam jangka panjang.
“Kalau masyarakat rajin menjaga kesehatan, beristirahat cukup, dan mengatur pola makan, risiko ISPA bisa sangat berkurang,” jelasnya.
Untuk memastikan layanan merata di seluruh titik, dokter spesialis juga akan melakukan kunjungan lapangan secara berkala ke wilayah pedalaman.
Dinkes tengah menyiapkan pola rujukan terintegrasi berbasis digital yang memastikan setiap pasien dengan keluhan berulang dapat langsung dijadwalkan bertemu dokter spesialis tanpa proses administrasi berulang.
Sumarno optimistis bahwa pendekatan kolaboratif ini akan menghasilkan penurunan angka ISPA sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Kutim secara bertahap dan merata.(ADV)



